211

batik tugu mas

MENCINTAI BUMI LEWAT SUTERA ALAMI

UMKM UNGGULAN DIY

MENCINTAI BUMI LEWAT SUTERA ALAMI

Persahabatan Endro Kuswardjo dengan kepompong bermula tahun 2005, ketika ia mulai membudidaya ulat sutera Bombyx mori di rumah. Lahir di keluarga penenun membuat pria ini akrab dengan jagat pakan dan lungsin sejak kanak-kanak. Namun, baru di tahun itu ia memutuskan kembali dari perantauan ke kampung halaman, dan mulai menenun impiannya bersama Tugu Mas.

 

Mulanya, Tugu Mas memproduksi kain sutera berkonsep lurik-batik dengan filamen ulat sutera hasil budidaya mandiri. Melampaui dekade, gagasan Endro pun bermetamorfosis. Ia memperluas material ke ulat sutera liar yang pengolahannya lebih ramah lingkungan. Kepompong jenis ini tak perlu direbus bersama ulatnya dan karenanya tidak mengurangi populasi kupukupu
di alam.

 

Tahun 2017, Tugu Mas menginisiasi pemberdayaan perempuan penenun di Dusun Jono, Tancep, Ngawen Gunung Kidul, Yogyakarta. Upaya ini dilakukan
dengan memberikan pelatihan menenun, menghibahkan mesin tenun ATBM, hingga melibatkan perempuan pedesaan sebagai mitra penenun sampai saat ini. Selain berfokus pada sutera, Tugu Mas juga memproduksi lurik katun, dan dikenal sebagai produsen lurik yang berfokus pada motif khas keraton Yogyakarta, tentu sembari terus berinovasi dalam ragam corak garis dan warna.

 

Persahabatan Endro Kuswardjo dengan kepompong bermula tahun 2005, ketika ia mulai membudidaya ulat sutera Bombyx mori di rumah. Lahir di keluarga penenun membuat pria ini akrab dengan jagat pakan dan lungsin sejak kanak-kanak. Namun, baru di tahun itu ia memutuskan kembali dari perantauan ke kampung halaman, dan mulai menenun impiannya bersama Tugu Mas.

Produk

Attacus Atlas

Selendang Sutera Liar

Dari kepompong kopong yang dipanen di pohon mahoni atau sirsak, Tugu Mas mengkreasikan selendang yang terasa hangat di musim dingin. Selendang ini ditenun dengan memanfaatkan filamen ulat sutera liar Attacus atlas sebagai benang pakan dan serat sutera Bombyx mori untuk lungsinnya. Gradasi cokelat yang muncul di selendang murni anugerah alam, sepenuhnya bergantung pada jenis daun yang dimakan ulat liar. Pola dan warnanya pun selalu unik dan tak pernah sama.

BAHAN

Attacus atlas wild
silk yarn and Bombyx
mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

None

UKURAN

63 x 180 cm

HARGA

Rp1.000.000 –
Rp1.350.000

The Reddish

Selendang Sutera Liar

Perjalanan kisah selendang ini dimulai dari kepompong ulat sutera liar Attacus atlas yang dimasak kemudian dipintal menjadi serat benang. Proses pemintalan bisa makan waktu berhari-hari karena dilakukan secara manual. Rona merahnya berasal dari bujuran benang sutera Bombyx mori yang direbus dengan kayu secang. Berpadu serat Attacus atlas yang kecokelatan, kelir secang pun menggaris tebal tipis, mencipta corak tak tertebak pada helai selendang.

BAHAN

Attacus atlas wild
silk yarn and Bombyx
mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye (secang)

UKURAN

58 x 175 cm

HARGA

Rp1.000.000 –
Rp1.350.000

Cricula Trifenestrata

Selendang Sutera Liar

Dikenal sebagai ulat sutera emas, Cricula trifenestrata sungguh indah ketika menjadi kupu-kupu. Untungnya, selendang ini hanya memanfaatkan selongsong tinggalannya sebagai bahan utama. Ulat cricula hidup liar di pohon alpukat, jambu mete, atau kedondong. Ia memproduksi filamen berwarna kuning keemasan. Dari sanalah, selendang ini mendapat warnanya. Tak hanya menghangatkan badan, selendang ini juga akan menghangatkan hati, karena telah turut menjaga kekayaan ragam Lepidoptera nusantara.

BAHAN

Cricula trifenestrata
wild silk yarn, Bombyx
mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

None

UKURAN

63 x 180 cm

HARGA

Rp1.000.000 –
Rp1.350.000

Selendang Sutera Ikat Aval

Pada selembar selendang ini, terekam jejak keberdayaan para petani desa hutan di Pati, Jawa Tengah. Kepompong ulat sutera budidaya Bombyx mori yang mereka panen dari hutan menjadi lembaran wastra bernilai tinggi. Tekstur unik tidak rata adalah ciri khas pemintalan manual. Gurat coraknya didapat dengan mengikat benang sutera sebelum dicelup warna alami buah jolawe. Dari tangan-tangan penuh kesabaran, ia hadir menghangatkan keseharian kita

BAHAN

Aval silk yarn and
imported silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye (jolawe)

UKURAN

63 x 125 cm

HARGA

Rp850.000

Selendang Sutera Indigo

Kerja kolaborasi Tugu Mas dengan perajin pewarna alam Temanggung, Jawa Tengah menghadirkan selendang sutra bersalur indah. Biru sejuknya berasal dari fermentasi daun tarum, sementara putihcokelat hangatnya didapat dari warna asli serat sutera. Sebagai pelengkap busana, lembaran ini mengesankan kedinamisan dan ketenangan yang seimbang. Kecantikan tanpa mencederai alam

BAHAN

Bombyx mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye (indigo)

UKURAN

60 x 180 cm

HARGA

Rp450.000

Rainbow Silk Scarf

Selendang Sutera Pelangi

Kematangan Tugu Mas dalam mengeksplorasi proses pewarnaan tradisional tecermin pada selendang bernuansa pelangi ini. Corak merah hingga ungu timbul dari celupan kayu secang yang dikunci dengan kapur dan tunjung. Cerahnya kuning berasal dari rona kayu tegeran. Keindahannya laksana selarik bianglala yang merebak pada senja keemasan.

BAHAN

Bombyx mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye
(secang, tegeran)

UKURAN

60 x 180 cm

HARGA

Rp650.000

Selendang Sutera Ikat Secang

Ikat celup adalah salah satu metode untuk mendapatkan corak dan warna nan kaya. Helaian benang diikat dengan tali rafia yang berfungsi sebagai perintang warna. Setelah celupan pertama selesai, rafia digeser, dan benang dicelup kembali. Tangan-tangan tekun terus mengulangnya hingga tercapai warna yang diinginkan. Benang yang telah bersalin rupa kemudian dijalin seiring semarak kerja gagrak dan pedal alat tenun. Gradasi merah-kuning pada selendang ini lahir dari proses rumit, memastikan Anda tampil berkelas dan memesona.

BAHAN

Bombyx mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye
(secang, tegeran)

UKURAN

60 x 180 cm

HARGA

Rp650.000

Selendang Sutera Ikat Jolawe

Jika sedang ingin tampil bersahaja, selendang ini bisa menjadi pilihan tepat. Hadir dalam nuansa cokelat keabuan dan gurat biru samar, ia menghadirkan imaji akan biru langit yang menyeruak di antara lanskap hutan. Warna gelap didapat dari celupan kulit buah jolawe, sedangkan spektrum biru berasal dari fermentasi daun tarum. Karakter khas benang sutera membuat warna alam tampil lebih kuat. Dalam kesederhanaan, Anda tetap
memikat.

BAHAN

Bombyx mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Natural dye
(jolawe, indigo)

UKURAN

60 x 175 cm

HARGA

Rp650.000

Attacus Mix Samia

Selendang Sutera

Alam selalu punya cara untuk mewarnai kehidupan. Beda habitat, beda pula serat suteranya. Ragam keajaiban alam ini tampak pada tenunan selendang yang mengombinasikan benang dari kepompong tiga spesies. Rona putih filamen Samia Cynthia Ricini yang hidup di pohon ketela dipertemukan dengan spektrum kecokelatan serat Attacus atlas dan benang lungsin kekuningan Bombyx mori. Terciptalah sutera berkilau sehalus dan seindah sayap kupukupu.

BAHAN

Attacus atlas wild silk
yarn, Samia cynthia ricini
wild silk yarn, Bombyx
mori silk yarn

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

None

UKURAN

63 x 180 cm

HARGA

Rp1.000.000 –
Rp1.350.000

Lurik Saliro

Demi memanfaatkan kain seoptimal mungkin, Tugu Mas melansir lurik Saliro. Dibuat sangat terbatas, biasanya hanya sepasang untuk tiap motif, wastra ini memadukan tenun dan aplikasi perca lurik, sekaligus menggabungkan corak vertikal dengan salur horizontal. Lurik klasik pun tampil memikat dengan pengayaan potongan berwarna terang. Sebagai bawahan ataupun atasan, karya ini memastikan eksklusivitas terpancar.

BAHAN

Premium cotton thread
80s/2.

TEKNIK

Manual weave

PEWARNAAN

Non-carcinogen
synthetic dyes

UKURAN

300 x 70 cm
250 x 105 cm

HARGA

Rp500.000 –
Rp600.000

Video

PRODUK batik tugu mas

Jl. Taman Siswa, Joyonegaran MG.II No.942 Yogyakarta - Indonesia