UMKM Harus Pahami Konsep Sinergitas Teknologi dan Kualitas

UMKM Harus Pahami Konsep Sinergitas Teknologi dan Kualitas

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, mengingatkan agar pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus menjgaa kualitas produk-produknya. Hal ini guna menjaga loyalitas konsumen dan meningkatkan eksistensi dari produk dari suatu UMKM.

Terkait eksistensi, teknologi juga menjadi sangat penting di era disrupsi saat ini. Yang mana, katanya, teknologi menjadi pemeran utama dalam produksi dan promosi.

Untuk itu, pelaku UMKM harus memahami konsep sinergi antara kualitas produk dan teknologi yang digunakan. Sehingga, produknya dapat diketahui masyarakat luas.

“Technology and quality sinergy akan melahirkan produk-produk berkuakitas secara berkelanjutan dengan menghilangkan mindset waton payu (asal laku),” kata Paku Alam X, di acara Grebeg UMKM DIY 2019 di Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta.

Ia pun berharap, peningkatkan kualitas UMKM melalui Grebeg UMKM DIY 2019 ini dapat diiringi dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Ia menyebut, di era saat ini ada tiga kompetensi ysng harus dimiliki.

Pertama yakni literasi data atau kemampuan untuk membaca, menganalisa dan menggunakan informasi. Kedua, literasi teknologi yang mana SDM harus memahami caraera kerja mesin dan aplikasi teknologi. “Tiga, literasi manusia yaitu humanitis, komunikasi dan desain produk,” katanya.

Menurut Paku Alam X, semua pihak harus dapat menjunjung tinggi eksistensi dan pengembangan UMKM di DIY. Sehingga, kualitas produk dan pemasaran UMKM di DIY dapat terus berkelanjutan.

Paku Alam menjelaskan, UMKM dalam sepuluh tahun terakhir menjadi penggerak ekonomi, khususnya DIY. Yang mana, proporsinya lebih dari 90 persen dari total jenis usaha yang ada.

Artinya, kata Paku Alam X, UMKM memegang kunci laku perekonomian DIY. Hal ini katanya, terbukti saat Indonesia ikut terkena imbas lesunya ekonomi global, perekonomian DIY justru tumbuh stabil.

Padahal, DIY sendiri merupakan daerah dengan angka kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa. Bahkan, ketimpangan sosial DIY menjadi yang tertinggi di Indonesia.

“Kalau tidak salah itu angka kemiskinan DIY 13 persen sekian, kalau angka ketimpangan sosial 0,43 persen,” kata pengamat ekonomi dan perburuhan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hempri Suyatna.

source : republika.co.id